Sikap lemah lembut Rasulallah terhadap istri suatu hal yang perlu kita teladani, selain itu rasulallah tak enggan membantu mengerjakan urusan rumah tangga.

Teladan yang diajarkan Rasulallah SAW tidak hanya sebatas pada persoalan tentang ibadah, namun juga hubungan antara manusia, seperti hubungan dalam membina rumah tangga. Dalam rumah tangga Rasulallah SAW ternyata memiliki sifat yang penyanyang, santun dan pemaaf, sebelumnya  sudah banyak sekali kisah yang mencerminkan kelapangan dada Rasulallah SAW dalam memaafkan.

Seperti kisah yang di dokumentasikan oleh Imam Bukhari. Suatu ketika Rasulullah SAW berada di rumah salah satu seorang istri beliau. Kemudian tiba-tiba istri yang lain mengirimkan mangkuk berisi makanan ke rumah istri yang sedang didatangi Rasulullah. Setelah melihat itu istri yang didatangi Rasulullah SAW merasa cemburu. Bermaksud ingin bercanda, tetapi candanya istri rasulullah telah bercampur kecemburuan hingga membuat makanan yang dibawa mangkuk terjatuh dan pecah. Kemudian Rasulullah SAW langsung mengumpulkan pecahan mangkuk yang ada di lantai dengan tersenyum kemudian beliau berkata, “Ibu kalian sedang cemburu”.

Lalu Nabi meminta pelayan tersebut menunggu dan kemudian Beliau memberikan mangkuk milik istrinya yang sedang didatangi untuk diberikan kembali ke istrinya pemilik mangkuk yang pecah tadi.

Dari cerita diatas Rasulullah SAW senantiasa memperbaiki kesalahan orang lain disekitarnya dengan kasih sayang dan kelembutan. Tidak pernah kita menemukan cara Nabi memperbaiki permasalahan dengan cara yang keras dan kasar. Walaupun suatu saat kita mendapati suara beliau meninggi dan kasar saat menegur sahabat ataupun istrinya, semua orang akan tahu itu bukan lah sifat asli dari Beliau yang ramah, lembut dan penyayang. Pastinya tidak ada kata kasar apalagi perbuatan dan tindakan kasar.

Semestinya seorang istri juga tidak meninggalkan sifat pemaaf, lembut dan lapang dada seperti Nabi, meskipun perilaku tersebut dicontohkan oleh Rasulullah yang notabene laki-laki atau pihak suami. Pernah Rasulullah menjelaskan sebuah berita, bahwa kelak Neraka sebagian besar akan penghuninya adalah seorang wanita. Seperti yang dikatakan Nabi berikut:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Maksud kufur dalam hadits bukan keluar dari agama Islam, tapi maksud kufronul huquq adalah istri yang enggan memenuhi kebutuhan suami. Maksudnya bukan kufur kepada Allah tapi merupakan celaan bagi wanita yang terkandung dalam hadits.

Wanita sering terbawa amarah , dan sulit memaafkan seorang suami tak jarang pula istri yang sampai lupa akan kebaikan-kebaikan suami saat sedang terbawa amarah. Biasanya secara tidak sadar berucap “kamu tidak ada baiknya sama sekali” dan seorang suami pastinya merasa tersakiti. Istri tersebutlah yang terdanda kufur nikmat dan akan dijatuhkan laknat. Semoga bukan termasuk dalam keluarga kita. Semoga Allah selalu merahmati setiap langkah kita dan semoga kita dapat meniru akhlak Rasulullah SAW yang mulia.