Kematian adalah suatu takdir yang tidak bisa di rubah memang, namun, inilah yang harus diperhatikan jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Haji tahun ini memerlukan beberapa ulasan baik ketika di Arab Saudi atau di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Pusat Kesehatan Haji melakukan analisis ihwal tingginya angka kematian jemaah haji tahun ini. Analisis ini dilakukan sebagai evaluasi penyelenggaraan kesehatan haji tahun ini dan untuk perbaikan tahun depan.

Kepala Subag Program dan Informasi yang juga penanggungjawab Siskohatkes Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Melzan Dharmayuli, dari analisis tersebut terungkap bahwa jemaah haji wafat sampai hari ke-66 berjumlah 436 orang.

Ternyata pada tahun ini lebih sedikit tinggi dibanding tahun lalu. Hal ini dikarenakan dipicu adanya faktor kelelahan, infeksi, alergi, dan kambuhnya penyakit (exacerbation) yang diderita jemaah haji.

“Sebanyak 81 persen jemaah haji wafat memiliki status kesehatan dengan risiko tinggi (risti),” kata Melzan Dharmayuli.     

Penyebab kematian terbanyak karena penyakit jantung, stroke, dan saluran pernafasan. Dia merincikan, sebanyak 210 jemaah haji wafat atau 48 persen disebabkan karena penyakit jantung dan stroke. Sedangkan 112 orang atau 26 persen meninggal karena penyakit saluran nafas. 

Usia terbanyak jemaah haji wafat adalah di atas 60 tahun sebanyak 352 orang atau 81 persen dari 436 jemaah haji yang wafat. Yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah jemaah yang meninggal di atas usia 70 tahun berjumlah 196 orang atau 45 persen.

“Jumlah atau angka ini mendominasi dari seluruh jemaah haji yang wafat. Kemungkinan ada hubungannya dengan penambahan kuota sebanyak 10 ribu orang yang memprioritaskan usia di atas 70 tahun menurut analisis tim,” katanya.

Terdapat sebanyak 265 jemaah wafat atau 61 persen dari total jemaah haji yang wafat berasal dari jemaah haji yang dikoordinasikan oleh kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). Dari jumlah tersebut penting menjadi perhatian KBIH untuk berperan aktif memberikan penyuluhan kesehatan haji.

“Hal ini penting untuk menjadi perhatian agar KBIH dapat berperan aktif dalam memberikan penyuluhan kesehatan atau dakwah kesehatan haji kepada jemaahnya,” katanya.

Melzan kembali mengatakan, sebanyak 334 jemaah wafat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) atau 77 persen dari jumlah total jemaah wafat. Jemaah haji yang wafat di RSAS adalah jemaah haji yang dirujuk tim kesehatan dalam kondisi penyakit yang perlu penangan khusus.  

Sementara itu, kata dia, sebanyak 84 jemaah wafat di pondokan dan angka ini, lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 84 jemaah haji wafat dipondokan sebanyak 53 orang di antaranya wafat secara mendadak di pondokan, yang disebabkan  penyakit jantung dan stroke.

“Sisanya meninggal karena penyakit saluran nafas, endokrin metabolik dan infeksi,” jelasnya.

Menurut dia, kematian jemaah haji meningkat pada pasca-Armina. Sesuai data yang diperoleh, jumlah kematian pasca- Armina dua kali lipat dari jumlah kematian pra-Armina. Meningkatnya jumlah kematian pasca-Armina, ada hubungannya dengan kegiatan puncak ibadah haji yang menghabiskan tenaga dan terpapar dengan cuaca yang cukup ekstrem.

“Setelah Armina, umumnya jemaah haji tetap melakukan aktifitas yang menguras tenaga tanpa memperhatikan istirahat,” katanya.