Adat Jawa selalu melekat pada masyarakat Indonesia, namun bagaimana hukumnya neloni dalam adat jawa?, diperbolehkah dalam Islam?

Sangat banyak tradisi yang melekat pada adat jawa, baik sebelum melakukan pernikahan, sedang berlangsungnya pernikahan dan setelah acara pernikahan. Atau bahkan setika mengandung anak pertama, mengandung di umur 3 bulan, 7 bulan atau setelah melahirkan dan masih banyak lagi.

Kepercayaan itu selalu digabungkan dengan hal-hal ghaib, yang membuat orang-orang jika tidak melakukannya akan percaya mendapat bala atau balasan. Tetapi, saat ini banyak masyarakat Jawa yang mulai tergeser adatnya dengan zaman yang semakin canggih menurut mereka.

Namun, bagaimana hukumnya melakukan telonan pada ibu hamil?, apakah masih termasuk percaya pada hal-hal ghaib atau yang lainnya?.

Sebenarnya, adat jawa ini di adopsi dari zaman kerajaan kemudian agama Islam masuk dengan dakwah yang sangat sederhana dan tidak menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang telah di bangun oleh nenek moyang dengan mengganti kalimat-kalimat yang digunakan dengan bacaan-bacaan Al-Qur’an.

Ternyata, pembahasan tradisi telonan ini terdapat dalam kitab Nahdliyah pada halaman 141. Di dalam kitab tersebut, diterangkan bahwasanya “Sesungguhnya kejadian terciptanya kalian dikumpulkan di perut ibunya dalam 40 hari sebagai mani, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Lalu Allah memerintahkan malaikat melakukan 4 hal, tulis amalnya, rezekinya, ajalnya, rugi atau beruntung. Kemudian ruh ditiupkan kepadanya. Sebab seseorang dari kalian sungguh akan beramal seperti ahli surga sehingga jarak antara dirinya dan surga tinggal satu jengkal, namun ia telah didahului kepastian takdir sehingga beramal seperti ahli neraka, maka ia masuk neraka.  Dan seseorang dari kalian sungguh akan beramal seperti ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal satu jengkal, namun ia telah didahului kepastian takdir sehingga beramal seperti ahli surga, maka ia masuk surga.” (Muttafaqun Alaih dari Ibnu Mas’ud, shahih. Dikutip dari Al-Jami’ ash-Shaghir 2179).

Bayi yanga da dalam kandungan sebaiknya di berikan suara atau rangsangan yang bermanfaat untuk dirinya, seperti di dengarkan bacaan Al-Qur’an atau instrumen-instrumen yang indah. Selain itu, perbanyaklah bersedekah dan menjaga ucapan kepada sesama manusia.