Banyak evaluasi terkait pelayanan ibadah haji tahun 2019 ini, diantaranya adalah terkait bidang pelayanan kesehatan jemaah haji.

Penyelenggaraan ibadah haji tahun 1440H/2019M di Arab Saudi secara resmi telah selesai sejak hari Ahad tanggal 15/9. Banyak dinamika dalam penyelenggaraan ibadah terutama terkait angka kematian tahun ini yang meningkat tajam.

Indro mengatakan bahwasanya, meski banyak dinamika dalam operasional penyelenggaraannya. Akan tetapi Kemenkes melalui Pusat Kesehatan Haji sudah menyiapkan strategi untuk menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Selain meningkatkan pelayanan di tingkat kloter, petugas kesehatan juga meningkatkan pelayanan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Baik KKHI yang ada di Makkah maupun KKHI yang ada di Madinah,sehingga tim kesehatan berhasil meniadakan angka kematian di kedua fasilitas kesehatan tersebut.

“Hal ini bukti atas ikhtiar dan kesigapan kita dalam menangani pasien khususnya kasus-kasus emergensi terlihat hasilnya di mana angka kematian di KKHI itu nol,” katanya.

Selama 60 hari beroprasi KKHI Makkah telah menerima 4.188 kunjungan pasien. Sedangkan KKHI Madinah menangani pasien rawat inap sebanyak 884 orang. Dari jumlah pasien yang dirawat di KKHI Makkah dan Madinah itu semuanya kembali sehat dan tidak ada yang meninggal.

Keberhasilan menekan angka kematian di fasilitas kesehatan, utamanya karena KKHI berikhtiar dengan melengkapi semua fasilitas kesehat dengan baik. Seperti disediakan dokter spesialis yang berkaitan dengan faktor risiko yang dimiliki oleh jemaah haji berisiko tinggi dengan penyakit bawaan seperti jantung, hipertensi, atau stroke. Dengan demikian pasien risti bisa ditangani dengan optimal.

Selain itu ada dokter-dokter yang disebut Amsyar sebagai dokter code blue atau dokter yang menangani kasus kegawatdaruratan. Kapasitasnya dalam menangani atau merujuk ke rumah sakit Arab Saudi dapat meminimalkan risiko kematian.

Atas dasar itulah, langkah pembinaan, pelayanan dan perlindungan kepada jemaah haji Indonesia berjalan dengan baik. Meskipun terdapat 453 jemaah haji yang wafat, namun demikian petugas kesehatan haji dapat melayani ribuan jemaah haji lainnya melalui upaya promotif preventif, respons kegawatdaruratan dan layanan medis spesialistik yang diberikan oleh petugas kesehatan haji di semua tingkatan.

Menurut catatan medis, kematian jemaah haji Indonesia banyak disebabkan oleh dua faktor utama, yakni usia dan perilaku, di samping kondisi lingkungan di Arab Saudi yang berbeda dengan Indonesia. Berdasarkan analisis, angka kematian tertinggi di kelompok usia di atas 70 tahun. Kemudian diikuti dengan kelompok umur 60-70 tahun.

Sisi lainnya perilaku jemaah haji yang kurang peduli dengan kondisi kesehatannya. Masih banyak jemaah yang memaksakan diri untuk menjalankan ibadah haji yang bersifat sunnah. Tidak bisa menyeimbangkan antara aktivitas ibadah dengan kondisi fisiknya.

Di balik itu semua, penyelenggaraan kesehatan haji terbilang sukses. Pemerintah Indonesia mendapat apresiasi beberapa pihak di Arab Saudi. Penghargaan terkait upaya yang dilakukan secara efektif, maksimal dan sungguh-sungguh untuk menjaga jemaah haji yang jumlahnya terbanyak di dunia.

“Jadi ikhtiar yang dilakukan itu yang menjadi concern beberapa pihak Arab Saudi sehingga kita mendapat empat penghargaan tahun ini,” katanya.

Selama 75 hari operasional haji berjalan, tercatat sebanyak 475.464 layanan kesehatan rawat jalan yang diberikan di tingkat kloter oleh Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Angka ini lebih dari dua kali lipat jumlah jemaah haji Indonesia.

Sementara di level sektor, Tim Gerak Cepat (TGC) berhasil melakukan temuan kasus (deteksi dini penyakit) sebanyak 9.550 dan pertolongan emergensi sejumlah 2.738.