Banyak sifat dan sikap manusia yang berbeda-beda, begitupun dengan sikap dan sifat seorang mertua dari berbagai tipe, mari kita simak bersama!

Memang, menikah adalah menyatukan dua hati yang saling mencintai dan memberikan kasih sayang. Ketika menikah, semuanya akan berbeda. Kebiasaan-kebiasaan buruk akan muncul dan tidak akan bisa di tolak namun bisa dirubah seiring berjalannya waktu. Menikah sejatinya tidak hanya menyatukan dua insan dan dua hati, tetapi juga menyatukan kebiasaan dan adat istiadat dari kedua keluarga.

Banyak para wanita menakutkan dengan sifat mertua. Banyak yang beranggapan bahwa sifat mertua selalu buruk atau bahkan karakternya bisa di tebak. Banyak juga wanita sederhana tidak mengingikan memiliki mertua atau bahkan tidak ingin menikah dengan lelaki kaya. Mereka beranggapan bahwa nantinya dia akan disiksa atau tidak diterima di keluarganya.

Banyak cerita yang ditayangkan di TV terkait kisah kisah menantu dan mertua, dalam hal ini, penulis mengemas beberapa bagian mertua atau tipe-tipe mertua yang ada di masyarakat :

  1. Mertua sederhana

Metua seperti inilah yang paling diidamkan dan paling diinginkan oleh para menantu. Egaliter. Mertua seperti ini memiliki sifat memandang semua orang sebagaimana dia memandang dirinya sendiri, yakni manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan. Jika ada masalah yang menimpa rumah tangga anaknya, dia juga akan berfikir sederhana bahwa semua orang pasti memiliki masalah dan maalah hadir untuk diselesaikan bukan diperbesar.

Biasanya, mertua seperti ini adalah pegawai level menengah ke bawah. Mungkin juga petani maupun pedagang. Pengalaman sehari-harinya mempengaruhi sikap dan cara berfikirnya.

Mertua seperti ini akan menyikapi masalah yang terjadi di rumah tangga anaknya dengan mendorong terwujudnya rekonsiliasi, bukan memperparah kondisi.

  • Mertua mantan pejabat

Mertua tipe ini banyak ditakuti para perempuan sederhana. Jika anda akan memiliki mertua menjengkelkan dan mengerikan. Dulu, ketika dia masih punya jabatan, entah di birokrasi atau di perusahaan, dia sering di hormati dan bahkan dijilat para bawahan. Hal tersebut seringkali terbawa sampai pensiun.

Ketika pensiun, sindrom itu sering menjangkiti mereka sehingga yang akan menjadi korban adalah para calon menantu dan menanu mereka. Cara memandang menantu dianggap seperti memandang bawahan. Menantu yang tidak tepat dalam berkomunikasi dengannya dianggap sebagai orang yang tidak sopan dan tidak menghargai.

  • Mertua kaya

Seringkali para wanita membuat guyonan bahwa enanya memiliki mertua orang kaya. Apalagi jika sangat tua. Perkataan tersebut artinya mengharapkan mertuanya cepat meninggal. Bukan itu pokok persoalannya. Meninggal memang urusan Tuhan dan mengharap mertua mati supaya cepat dapat warisan hanya ada di kepala orang-orang yang ingin hidup enak tanpa mau susah.

Mempunyai mertua kaya mungkin ada enaknya, tapi hati-hati dengan tidak enaknya. Perasaan superior, dimana semuanya bisa di beli dengan uang, anaknya tidak boleh terlihat susah, makanpun tidak boleh satu dua macam lauk dan perhatian kepada cucu yang berlebihan adalah sekian hal yang bisa mengganggu rumah tangga anda.

Memang, jika sudah nyaman dengan orang yang kita cintai, apapun bisa merubahnya, termasuk sifat kita ke mertua, haruslah tetap baik dan menghormatinya. Bagaimanapun caranya, kita juga harus bisa menganggap mertua itu ibu atau bapak kandung sendiri.