Banyak layanan jemaah haji yang mulai diperbaiki pada tahun ini dan dikabarkan akan juga ditingkatkan pada tahun berikutnya, apakah konsumsi juga?

Pengamat Haji dan Umrah, Ade Marfuddin menyambut baik rencana penambahan layanan konsumsi jemaah haji di Makkah, Arab Saudi. Rencana itu dinilai dapat menjadi solusi dari kesulitan jemaah.

“Jemaah haji menjadi mendapat kesulitan, mereka harus mencari makan di luar hotel, dan itu belum siap, toko-toko belum buka, jemaah haji juga belum tahu di mana beli makanan sehingga ini menjadi masalah,” kata Ketua Umum Rabithah Haji Indonesia.

Ade mengungkapkan bahwasanya, di lapangan banyak jemaah haji Indonesia yang mengeluh saat layanan konsumsi diberhentikan saat sebelum dan setelah puncak haji. Sehingga hal ini menjadi masalah bagi jemaah haji yang sudah terbiasa mendapatkan konsumsi sejak awal.

Ade pun memberikan solusi untuk masalah tersebut. Menurutnya, sebaiknya jemaah haji tetap mendapatkan layanan konsumsi secara penuh setiap hari selama di Makkah.

Sejauh ini alasannya pihak penyelenggara katering tidak bisa menyediakan konsumsi secara penuh karena masalah teknis. Seperti masalah jalan yang macet menjelang puncak haji sehingga sulit mengantarkan makanan sampai ke hotel.

“Saya kira masalah teknis itu bisa dibicarakan di tingkat pengelola maktab atau hotel, di hotel yang ditempati jemaah haji memiliki dapur dan tempat makan, menurut saya pemerintah menawarkan pihak hotel atau maktab untuk membuka warung makan di situ,” ujarnya.

Jika pihak maktab atau hotel dapat memberikan layanan konsumsi untuk jemaah, maka akan sangat memudahkan jemaah saat layanan konsumsi diberhentikan. Dia juga mengaku telah bertanya kepada beberapa maktab dan pemilik hotel mengenai kesediaan mereka membuka layanan makan.

Pihak maktab dan hotel siap jika ditunjuk oleh penyelenggara haji Indonesia untuk memberikan layanan konsumsi selama layanan katering diberhentikan menjelang dan sesudah puncak haji.

“Nanti penyelenggara haji yang akan membayar layanan konsumsi yang diberikan pihak maktab atau hotel, tapi kalau tidak sanggup membayarnya biar jemaah haji yang membayarnya,” ujarnya. Jadi solusi yang diambil adalah pemerintah Indonesia memenuhi kebutuhan makan jemaah menggunakan jasa maktab atau hotel selama layanan katering diberhentikan. Jika pemerintah Indonesia tidak memiliki anggaran untuk itu, maka biarkan jemaah haji yang membayar makanan yang mereka beli dari pihak hotel.