Wiridan biasanya menggunakan jari, kerikil, tasbih atau alat dzikir digital, namun bagaimana hukumnya dalam Islam?, bolehkah?

dalam agama Islam, selalu dianjurkan untuk berdzikir kepada Allah SWT. Banyak cara yang biasa dilakukan oleh umat muslim dalam menghitungi dzikirnya. Pada zaman dahulu, umat muslim mengitung dzikirnya dengan menyalurkan butiran jagung dari wadah satu ke wadah yang lain. atau terkadang menggunakan biji-bijian yang lain. Kemungkinan lain, para pendahulu biasanya juga mengguakan kerikil untuk berdzikir kepada Allah SWT.

Wiridan dalam Islam biasanya dilakukan setelah sholat fardhu maupun ketika dalam perjalanan. Wiridan juga biasanya dilakukan ketika pagi dan sore hari atau bahkan dalam waktu yang tidak ditentukan. Semua orang pastinya melakukan wiridan pada saat selesai sholat fardhu dan setiap orang selalu menggunakan alat atau jari untuk menghitungi dzikir yang sudah diperolehnya.

Biasanya, orang zaman dahulu juga menggunakan jari. Sampai saat ini, terdapat alat yang biasa digunakan untuk berdzikir yakni bernama couter atau tasbih digital. Dahulu, tasbih digital merupakan alat dzikir oleh-oleh dari haji atau umrah. Namun, saat ini, banyak alat dzikir digital yang tersebar di Indonesia.

Namun, bagaimana hukumnya wiridan memakai jari, kerikil dan tasbih? Atau bahkan counter?, diriwayatkan dalam kitab Amaliyah Nahdliyah, “ Kami meriwayatkan dari Yusairah, sahabat perempuan yang hijrah, bahwa Nabi memerintahkan wanita-wanita untuk menjaga dzikir dengan takbir, taqdis (mensucikan Allah) dan tahlil dengan menggunakan jari-jari. Sebab jari-jari tersebut akan ditanya dan diajak berbicara (di akhirat).” (HR. Abu Dawud No. 1501).

Dalam riwayat lain, juga disebutkan bahwasanya “Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa ia bersama Rasulullah SAW mendatangi seorang perempuan yang di depannya ada kerikil atau batu kecil yang ia gunakan untuk membaca tasbih. Rasulullah SAW bersabda : “Maukah kau aku beritahu dengan yang lebih mudah bagimu dan lebih baik?, Bacalah, Maha suci Allah dengan hitungan makhluk yang Allah ciptakan di langit, Maha suci Allah dengan hitungan makhluk yang Allah ciptakan di bumi, Maha suci Allah dengan hitungan makhluk ada diantara keduanya, Maha suci Allah dengan hitungan makhluk yang Allah sebagai penciptanya, Allah maha besar dengan hitungan makhluk yang Allah sebagai penciptanya, segala puji bagi Allah dengan hitungan makhluk yang Allah sebagai penciptanya, Tiada Tuhan selain Allah dengan hitungan makhluk yang Allah sebagai penciptanya, tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah dengan hitungan makhluk yang Allah sebagai penciptanya.” (HR.At-Turmudzi, ia mengatakan hasan, dan Abu Dawud No 1.500).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa wiridan menggunakan jari, kerikil, biji-bijian, tasbih atau alat dzikir boleh dilakukan, yang terpenting hati dan pikirannya tetap kepada Allah SWT tidak mengubah niatnya untuk melakukan wiridan dan niat hanya untuk Allah SWT.