Di Indonesia tersebar banyaknya wali dengan berbagai karomahnya, dahulu ziarah kubur dilarang oleh Rasulullah, namun bagaimana dengan ziarah wali?

Saat ini sedang ada pada zaman wisata religi booming. Di Indonesia sendiri hampir setiap daerah memiliki makam para wali atau para syuhada’. Banyak yang berkata bahwasanya ziarah wali atau ziarah kubur itu diharamkan menurut Islam, tetapi juga ada yang yang berkata bahwasanya Islam menganjurkan umatnya untuk melakukan ziarah kubur. Zaiarah kubur ini mengandung sejumlah manfaat bagi mereka yang melakukannya, yaitu menambah keimanan dan mengingatkan seseorang pada alam sesudah kehidupan sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Artinya, “Dulu aku pernah melarang kalian untuk ziarah kubur. Sekarang, silakan ziarah karena sungguh ziarah kubur dapat membuat kalian zuhud di dunia dan dapat mengingatkan kalian pada akhirat,” (HR Ibnu Majah). Ziarah kubur secara harfiah adalah aktivitas kunjungan semata ke sebuah makam. Tetapi biasanya ziarah kubur juga berisi dengan aktivitas lain seperti membacakan ayat Al-Qur’an dan mendoakan ahli kubur yang sedang diziarahi.

Selain ziarah kubur anggota keluarga dan kerabat yang telah mendahului kita, Islam juga menganjurkan kita untuk menziarahi makam para nabi, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh. Syekh Ihsan Jampes Kediri menganjurkan orang yang menziarahi kubur orang-orang saleh untuk melakukan sejumlah hal sebagai berikut:

ثم يتوسل بأهل تلك المقابر أعني بالصالحين منهم في قضاء حوائجه ومغفرة ذنوبه ثم يدعو لنفسه ولوالديه ولمشايخه ولأقاربه ولأهل تلك المقابر ولأموات المسلمين ولأحيائهم وذريتهم إلى يوم الدين ولمن غاب عنه من إخوانه

Artinya, “Kemudian ia bertawasul dengan ahli kubur tersebut, yakni mereka yang saleh, dalam meluluskan hajatnya dan pengampunan dosanya, kemudian ia mendoakan dirinya, kedua orang tuanya, para gurunya, kerabatnya, ahli kubur setempat, umat Islam yang telah wafat dan yang masih hidup, keturunan mereka hingga kelak hari kiamat, dan umat Islam yang tidak hadir,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 465).

Syekh Ihsan Jampes Kediri menganjurkan peziarah makam orang saleh untuk bertawasul melalui ahli kubur agar Allah meluluskan hajatnya dan mengampuni dosanya. Syekh Ihsan Jampes juga menganjurkan agar peziarah makam orang saleh mendoakan sebagai berikut:

1. Dirinya sendiri 2. Kedua orang tuanya. 3. Para gurunya. 4. Kerabatnya. 5. Ahli kubur di kompleks pemakaman tersebut. 6. Umat Islam yang telah wafat. 7. Umat Islam yang masih hidup. 8. Keturunan umat Islam hingga hari kiamat. 9. Umat Islam yang tidak hadir di tempat. Semuanya, kata Syekh Ihsan Jampes, didoakan setelah peziarah bertawasul melalui ahli kubur orang saleh yang sedang diziarahi.