Banyaknya minat masyarakat untuk melakukan ibadah haji, mengakibatkan antran panjang dan tentunya menambah masa tunggu keberangkatan haji.

Indonesia merupakan negara keempat dengan penduduk muslim terbanyak se dunia. Sehingga tidak dipungkiri jika Indonesia setiap tahunnya memberangkatkan banyak jemaah haji. dan bahkan setiap tahun peminat ibadah haji semakin naik.

Besarnya minat umat muslim Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji memicu antrean yang panjang, bahkan kini mencapai 20 tahun lamanya. Terkait hal tersebut, pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) bertemu dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud di komplek Kerajaan Arab Saudi.

Pertemuan yang dihadiri oleh Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, Hidayat Nur Wahid, Syarif Hasan, Zulkifli Hasan, Asrul Sani, Jazilul Fawaid, Fadel Muhammad, Nusron Wahid, Darul Siska, Idris Lalena dan Duta Besar RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel itu

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Muzani menyampaikan bahwasanya pihaknya meminta tambahan kuota haji jemaah Indonesia sebesar satu persen. Sehingga apabila disetujui, kuota jemaah haji Indonesia akan meningkat, yakni dari semula sebanyak 231 ribu orang menjadi 250 ribu orang.

“Alhamdulillah permintaan kami diterima dengan baik, pihak kerajaan mempertimbangkan permintaan tersebut,” ungkap Ahmad Muzani dalam siaran.

Selain itu, Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud atau akrab dikenal Raja Salman itu diungkapkannya berjanji akan meningkatkan pelayanan haji dan umroh. Peningkatan pelayanan khususnya akan diberikan kepada jemaah haji Indonesia. hal ini dikarenakan sudah adanya kerjasama yang baik dengan Indonesia.

“Kerajaan Saudi Arabia berjanji akan meningkatkan pelayanan haji dan umroh kepada warga negara Indonesia yang melaksanakan haji dan umroh. Tentunya ini sangat baik,” ungkapnya.

Perhatian Raja Salman terhadap jemaah haji Indonesia diungkapkan Ahmad Muzani karena menimbang Arab Saudi merupakan mitra strategis. Bukan hanya sebatas urusan haji ataupun ekonomi dan politik, tetapi juga menyangkut aspek sosial dan budaya.

Hal tersebut dikarenakan banyak tokoh Islam Indonesia dari beragam latar belakang organisasi, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Al Irsyad dan lainnya, menimba ilmu di Arab Saudi. Bahkan tercatat, terdapat sebanyak tiga orang ulama besar Indonesia yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram.

Ulama tersebut antara lain, Syeikh Junaid Al Batawi, Imam Nawawi Al Bantani, dan Syikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.  “Ini menandakan begitu dekatnya hubungan antara Indonesia dengan Arab Saudi,” jelasnya.

Intimnya hubungan antara Indonesia dengan Arab Saudi dibuktikan dari kunjungan Raja Salman ke Indonesia beberapa waktu lalu. Bahkan ketika itu Raja Salman menyampaikan sambutan dalam sidang Paripurna.

“Kami berharap kerjasama yang sudah terjalin sangat intim ini dapat mengurangi masa tunggu jemaah haji, minimal sepuluh tahun nantinya,” tutupnya. Sehingga pemerintah Indonesia sangat berharap kepada pemerintah Arab Saudi untuk meningkatkan kuota haji Indonesia. Peningkatan kuota haji ini dapat mengurangi masa tunggu jemaah haji.