Dalam melakukan ibadah haji, ada yang dinamakan rukun haji, wajib haji dan syarat haji. Nah, apa saja yang termasuk dalam syarat haji?

Sudah dijelaskan di artikel sebelumnya terkait perbedaan rukun haji dan wajib haji. Dari artikel sebelumnya, kita telah menjelaskan apa saja yang termasuk dalam rukun dan wajib haji. Pada artikel saat ini, kita akan menjelaskan apa saja yang termasuk syarat haji?

Berikut ini adalah syarat haji dan penjelasannya :

  • Islam

Ibadah haji diwajibkan kepada setiap muslim dan hal ini berarti jika orang kafir dan musyrik melakukan ibadah haji maka ibadah haji yang mereka lakukan tidak akan diterima. Demikian pula jika mereka ingin memasuki masjidil haram maka tidaklah diperbolehkan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT.

“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini”. (QS at-Taubah: 28).

  • Berakal Sehat

Seseorang yang hendak melaksanakan ibadah haji haruslah berakal sehat. Orang gila tidak memiliki kewajiban berhaji meskipun ia adalah muslim dan jika seandainya dia melakukan, maka ibadah haji dan umrahnya tidaklah sah, disebabkan karena hilang akal dari dirinya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ali radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Catatan pena diangkat terhadap tiga golongan. Orang yang tertidur sampai dirinya terbangun, anak kecil hingga dirinya dewasa, dan orang gila sampai dirinya sadar”. (HR Abu Dawud)

  • Dewasa atau Baligh

Ibadah haji tidak diwajibkan bagi anak kecil hingga dirinya dewasa, berdasarkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika seandainya seorang anak kecil melakukan ibadah haji maka hajinya sah, akan tetapi, belum mencukupi kewajiban hajinya dalam Islam, sehingga dia wajib melakukan ibadah haji kembali ketika dia sudah dewasa.

Berdasarkan Rasulullah SAW bahwa ada seorang wanita yang mengangkat anaknya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sembari bertanya: “Apakah anak ini mendapatkan ibadah haji? Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ia, dan untukmu pahala”. (HR Muslim)

  • Merdeka

Tidaklah wajib melakukan ibadah haji bagi seorang budak. Sehingga jika ia dia berhaji maka hajinya sah. Namun, hajinya belum memenuhi haji dalam Islam, sehingga dia diwajibkan untuk melakukan ibadah haji kembali ketika sudah merdeka. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam berikut ini :

“Dan budak mana saja yang berhaji kemudian dirinya dibebaskan maka wajib bagi dirinya untuk melakukan ibadah haji kembali”. (HR Ibnu Khuzaimah)

  • Mampu

Ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang mampu untuk melakukan perjalanan ke Baitul Haram berdasarkan al-Qur’an dan hadits. Dan yang dimaksud dengan mampu disini ialah mencakup mampu dari sisi fisik dan juga materinya. Berdasarkan firman Allah ta’ala:

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (QS al-Imran: 97).

Mampu disini juga berarti memiliki kecukupan bekal untuk pergi serta pulang dari ibadah haji dan juga cukup nafkah yang ditinggalkan dan apabila berhutang maka seluruh hutangnya sudah terbayar. Syarat lainnya yakni seseorang tersebut memiliki atau mampu berkendara dari tempatnya menuju kota Mekkah. Selain dalam hal harta, mampu dalam hal fisik juga diperlukan, dalam artian telah dinyatakan sehat dan mampu melakukan seluruh ibadah haji. jika ada yang mampu dalam hal harta tapi tidak fisik, maka tidak diperbolehkan atau menunggu hingga fisiknya kuat atau sembuh dari sakit.

  • Adanya Mahram bagi wanita

Syarat lainnya yang juga ditetapkan khusus untuk wanita adalah adanya mahram atau muhim yang menemaninya ketika berhaji. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW berikut ini :

“Tidak boleh bagi seorang wanita bepergian kecuali bila ditemani oleh mahramnya, dan janganlah seorang lelaki masuk kepadanya melainkan bersama mahramnya”. Maka ada seorang yang bertanya: “Ya Rasulalah, sesungguhnya aku ingin pergi bersama pasukan ini dan itu, sedang istriku ingin berhaji? Maka beliau mengatakan: “Keluarlah, pergi bersama istrimu”. (HR Bukhari)

Itulah yang dimaksud dengan syarat haji, dan harus diperhatikan dengan baik, supaya haji yang kita laksanakan menjadi haji yang mabrur.