Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing dalam menyikapi wabah virus corona, begitu juga di Arab Saudi, apa saja kebijakannya?

Semua umat muslim di dunia ini sedang terkena pandemi corona. Banyak sektor yang terdampak dan hampir semua negara terdampak oleh virus corona ini. salah satu sektor yang paling terdampak adalah sektor ekonomi. Di Indonesia, nilai rupiah sempat melemah dan mengalami kekacauan pada PHK massal di berbagai pabrik. Namun, bagaimanakah dampak pandemi corona yang terjadi di Arab Saudi?, khususnya di bidang ekonomi.

Kerajaan Arab Saudi diklaim menghadapi pandemi corona dengan kekuatan finansial. Kepastian kemampuan keuangan Arab disampaikan Menteri Keuangan dan Plt Menteri Ekonomi & Perencanaan Mohammed Al-Jadaan.

Seperti yang dilansir dari Saudi Gazette pada hari Kamis, tanggal 23/4 Al-Jadaan mengatakan bahwasanya kerajaan mengadakan studi intensif untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi. Kerajaan Arab Saudi juga berkoordinasi dengan banyak negara terkait rencana membuka kembali keran ekonomi.

Al-Jadaan menyebutkan Arab Saudi akan menyiapkan dana sebanyak SR47 miliar agar Kementerian Kesehatan dapat secepatnya memberantas corona. Kemudian ada alokasi SR23 miliar untuk memulihkan sektor swasta.

Al-Jadaan menyatakan bahwasanya kerajaan selalu memantau keuangan publik yang diharapkan mencapai target seperti tahun lalu. Kerajaan Arab Saudi telah menargetkan pendapatan non migas sebesar 13 persen. Diharapkan kemajuan non migas mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) Arab.

Al-Jadaan menyatakan bahwasanya segala langkah pemulihan ekonomi di sektor swasta dan non migas sudah didasari pertimbangan Pangeran Muhammad Bin Salman selakuu ketua dewan ekonomi dan pembangunan.  Setiap daerah memiliki kebijakan masing-masing dan memiliki plus dan minusnya. Semua kebijakan negara melihat bagaimana masyarakat dan kondisi masing-masing negaranya.